Keempatempat Muqtadayat al-Uluhiyyah ini diisyaratkan di dalam Hizb al-Saifi yang merupakan amalan wirid di kalangan orang yang bertariqat. Diceritakan bahawa Hizb al-Saifi ini diajar oleh Nabi Muhammad s.a.w kepada Sayyidina Ali bin Abi Talib r.a untuk diamalkan sebagai wirid. Matannya di dalam Hizb al-Saifi adalah seperti berikut:
Ibnu Sina banyak memiliki karya tulis. Ada pendapat yang menyatakan bahwa karya tulisnya mencapai dua ratus buku. Sebagian pakar lainnya menyatakan bahwa karya tulisnya sekita seratusan Di antara karya-karya Ibnu Sina Kitab Al ­Syifa Obat berupa ensklopedi filsafat; kitab Al­Qanun Fi al­Thib Praktek Kedokteran di bidang kedokteran; Kitab al­Najah Keberhasilan ringkasan dari al­Syifa dalam hal ketuhanan, logika dan ilmu alam serta karya-karya tulis lainnya. Akhir Ibnu Sina Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktifitas dan kerja keras sehingga suatu hari ia terkena penyakit maag akut yang sudah tidak dapat diobati lagi. Di hari-hari menjelang wafatnya ia selalu memakai pakaian putih, mensedekahkan hartanya kepada fakir miskin, memerdekakan budak serta giat beribadah kepada Allah Swt. Ia wafat pada tahun 428H/1037M di usia 58 tahun. VI. Proses Pembelajaran a. Persiapan 1 Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama. 2 Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. 3 Guru memotivasi peserta didik dengan kegiatan yang ringan, seperti cerita motivasi. 4 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 5 Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif tentang materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan materi keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina 6 Beberapa alternatif media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca atau bisa juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya. 7 Metode yang digunakan adalah gallery work atau pameran berjalan. Metode ini bertujuan membangun kerjasama kelompok cooperative learning, siswa akan saling memberikan koreksi dan apresiasu dalam belajar. Metode ini dapat dikolaborasikan dengan metode diskusi. b. Pelaksanaan 1 Guru meminta siswa untuk mengamati gambar yang ada di kolom “Mari mengamati”. 2 Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hasil pengamatannya tentang gambar tersebut. 3 Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap hasil pencermatan pengamatan siswa. 4 Guru meminta kembali siswa untuk mengamati gambar yang ada yang ada di kolom “Mari Mengamati”. 5 Siswa mengemukakan pendapatnya tentang gambar tersebut. 6 Guru memberikan penjelaskan tambahan kembali dan penguatan yang dikemukakan siswa tentang isi gambar tersebut. 7 Siswa menyimak penjelasan guru atau mencermati gambar atau tayangan visual/film tentang keteladanan sifat al­Ghazali dan Ibnu Sina, secara klasikal atau individual. 8 Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan keadaan kelas. 9 Guru memberikan kertas plano atau flip cart kepada masing-masing kelompok. 10 Guru menentukan tema atau topik pembahasan bagi masing-masing kelompok. 11 Siswa mendiskusikan tema atau topik yang sudah ditentukan 12 Siswa menempel hasil kerja kelompoknya di media tempel dinding 13 Masing-masing kelompok berputar mengamati hasil kerja kelompok lain 14 Salah satu wakil kelompok menjelaskan setiap apa yang ditanyakan oleh kelompok lain. 15 Guru dan siswa melakukan koreksi bersama-sama 16 Guru mengklarifikasi dan menyimpulkan materi pembelajaran. 17 Guru membimbing peserta didik untuk membaca kisah “kegigihan Ibnu Sina belajar filsafat”. 18 Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hikmah dari kisah “kegigihan Ibnu Sina belajar filsafat”. 19 Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap kisah tersebut. 20 Guru dan siswa menyimpulkan intisari dari pelajaran tersebut sesuai yang terdapat dalam buku teks siswa pada kolom rangkuman. 21 Pada kolom “Ayo Berlatih”, guru a. meminta peserta didik untuk mengerjakan bagian pilihan ganda dan uraian. b. membimbing peserta didik untuk mengamati dirinya sendiri tentang perilaku-perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina di lingkungannya Kolom tugas. VI I. Penilaian Guru melakukan penilaian terhadap peserta didik dalam a. Pengamatan diskusi. No. Nama siswa Aspek yang dinilai Skor Maks. Nilai Ketuntasan Tindak Lanjut 1 2 3 T TT R P 1 Aspek dan rubrik penilaian 1. Kejelasan dan kedalaman informasi. a. Jika kelompok tersebut dapat memberikan kejelasan dan kedalaman informasi lengkap dan sempurna mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 30. b. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman informasi lengkap dan kurang sempurna mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 20. c. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman informasi kurang lengkap mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 10. 2. Keaktifan dalam diskusi. a. Jika kelompok tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 30. b. Jika kelompok tersebut berperan aktif dalam diskusi mengenai biografi al- Ghazali dan Ibnu Sina, skor 20. c. Jika kelompok tersebut kurang aktif dalam diskusi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 10. 3. Kejelasan dan kerapian presentasi. a. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan rapi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 40. b. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan jelas dan rapi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor30. c. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan kurang rapi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 20. d. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan kurang jelas dan b. Kolom “Ayo Berlatih” 1 Kolom pilihan ganda dan uraian. a Pilihan ganda jumlah jawaban benar x 1 maksimal 10 x1 = 10. b Uraian Guru meminta siswa memberi tanda silang X pada huruf a, b, c, d atau e, pada jawaban yang paling benar ! 1. Imam al-Ghazali dilahirkan di kota a. Yerusalem b. Thus c. Taheran d. Cairo e. Palestina 2. Siapakah guru pertama al-Ghazali di bidang tauhid… a. Al Juwaini b. Washil bin al Atha c. Abu Hasan al Asy’ari d. Ali al Juba’i e. Qadhi Abdul Jabbar 3. Ayah al-Ghazali adalah seorang tokoh… a. hadis b. fikih c. ushul Fikih d. tasawuf e. bahasa Arab 4. Apa yang dilakukan oleh al-Ghazali saat pindah dari Baghdad menuju Damaskus… a. menuntut ilmu b. mencari nafkah c. menjadi menteri d. melakukan I’tikaf 5. Karya al-Ghazali yang paling monumental… a. Ihya Ulumuddin b. Mi’yar al ’ilmi c. Tahafut al Falasifah d. Arba’in fi Ushuluddin e. Qowaid al­’Aqa’id 6. Ibnu Sina dilahirkan di kawasan… a. Persia b. Bukhara c. Cairo d. Fes e. Khourtom 7. Di usia berapakah Ibnu Sina telah menghapal al Qur’an… a. 7 tahun b. 9 tahun c. 10 tahun d. 16 tahun e. 17 tahun 8. Di usia 16 tahun Ibnu Sina sudah menjadi… a. guru b. ulama c. filosof d. psikiater e. dokter 9. Seorang penguasa Bukhara yang disembuhkan oleh Ibnu Sina bernama... a. Jengis Khan b. Nuh ibn Manshur c. Yazid bin Muawiyah d. Muhammad II e. Musa bin Nushair 10. Karya Ibnu Sina yang berupa ensklopedi di bidang kedokteran. a. Kitab al­Najah b. Al­Qanun Fi al­Thib c. Al­Syifa d. Al­Dawa’ e. Al­Da’ b Uraian Siswa menjawab pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat! 1. Jelaskan secara singkat sosok ayah al-Ghazali! 2. Jelaskan petualangan al-Ghazali dalam menuntut ilmu ! 3. Apa yang dilakukan oleh al-Ghazali di Nidzamiyah? 4. Apakah judul karya al-Ghazali yang menolak filsafat? 5. Di mana dan kapan al-Ghazali wafat ! 6. Sebutkan nama lengkap Ibnu Sina ? 7. Gelar apakah yang diberikan kepada Ibnu Sina? 8. Penyakit apa yang diderita Ibnu Sina sebelum wafat ! 9. Apakah Julukan untuk Ibnu Sina di barat ? 10. Di usia berapa dan kapan Ibnu Sina wafat ? Rubrik Penilaian No. Soal Rubrik penilaian Skor 1 a. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 4. c. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al-Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 6 2 a. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup ayah al- Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup ayah al- Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 5 c. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al- Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 3 a. Jika siswa dapat menjelaskan guru-guru al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menjelaskan guru-guru al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 3 c. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al- Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 6 4 a. Jika siswa dapat menjelaskan ilmu pengetahuan yang dikuasai al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menjelaskan ilmu pengetahuan yang dikuasai al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 3 6 5 a. Jika siswa dapat menyebutkan karya-karya al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menyebutkan karya-karya al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 3 c. Jika siswa dapat menyebutkan karya-karya al-Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 6 6 a. Jika siswa dapat menyebutkan nama lengkap Ibnu Sina dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menyebutkan nama lengkap Ibnu Sina dengan tidak lengkap , skor 5 10 7 a. Jika siswa dapat menjelaskan biografi Ibnu Sina dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menjelaskan biografi Ibnu Sina dengan tidak lengkap , skor 5 10 8 a. Jika siswa dapat menceritakan keberadaan Ibnu Sina di pasar loak dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menceritakan keberadaan Ibnu Sina di pasar loak dengan tidak lengkap , skor 5 10 9 a. Jika siswa dapat menceritakan akhir kehidupan Ibnu Sina dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menceritakan akhir kehidupan Ibnu Sina dengan tidak lengkap , skor 5 10 Nilai Jumlah skor yang diperolehpilihan ganda dan Isian x 100 90 3 Tugas. Skor penilaian sebagai berikut. a. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugas tepat pada waktu dan perilaku diamati serta alasannya benar, nilai 100. b. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90. c. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80. Catatan Selain diberikan tugas sesuai dengan yang ada di buku siswa, peserta didik juga diberikan tugas tidak terstruktur berupa portofolio. Mengetahui, ...,...20... Guru Agama Islam Orang Tua/Wali Siswa ... ... • Setiap karya siswa sesuai kompetensi dasar yang masuk dalam daftar portofolio dikumpulkan dalam satu berkas tempat untuk setiap peserta didik sebagai bukti pekerjaannya. Skor untuk setiap kriteria menggunakan skala penilaian 0-10 atau 0-100. Semakin baik hasil yang terlihat dari tulisan peserta didik, semakin tinggi skor yang diberikan. Kolom keterangan diisi dengan catatan guru tentang kelemahan dan kekuatan tulisan yang dinilai. Nilai akhir yang diperoleh oleh peserta didik adalah sebagai berikut. a. Rata-rata dari jumlah nilai pada kolom 1 kolom centang dan menyebutkan contoh ketentuan ¡alat berjama’ah dan kolom diskusi x 30 %. b. Jumlah nilai rata- rata pada kolom “Ayo berlatih” Pilihan ganda /uraian dan tugas x 30 %. c. Jumlah nilai pada kolom praktik ¡alat berjamaah x 40%. Nilai akhir = nilai a + nilai b + nilai c Kunci jawaban Penerapan Kebijakan guru. II. Pilihan ganda 1. B 2. A 3. D 4. D 5. A 6. B 7. C 8. E 9. B 10. C III. Uraian 1. Ayahnya seorang sufi yang sangat wara’ yang hanya makan dari penghasilan yangdihasilkan oleh jerih payahnya 2. Pendidikan awal Al-Ghazali di Thus lalu ia melanjutkan belajar ke Jurjan di bidang hukum kepada Abu Nasr al Ismaili1015-1085 M. Pada usia 20 tahun ia pergi ke Nisabur untuk mendalami ilmu fikih dan tauhid kepada al Juwaini1028-1085 yang kemudian menjadi asistennya. Selain belajar fikih dan tauhid. Ia juga melakukan praktek tasawuf dibimbing oleh Abu Ali al-Farmadzi w. 1084 yang menjdi murid Imam Qusyairi 986-1072 M. Pada tahun 1091 M ia diundang oelh Nidzam al-Mulk 1063-1092 M untuk menjadi guru besar di Nidzamiah, Baghdad Dari sinilah kemudian ia mulai dikenal dan memiliki posisi yang tinggi. 3. Menjadi guru besar 4. Tahafut al Falasifah 5. Ia wafat pada tahun 505 H/1111 M di Thus dalam usia lima puluh lima tahun. 6. Nama lengkapnya Abu Ali al Husayn ibn Abdullah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina 7. Bergelar “Al­Syaikh Al­Ra’is”. 8. Ia terkena penyakit maag akut yang sudah tidak dapat diobati lagi. 9. Avicena IV. Tugas Kebijakan guru. Saran Guru harus kreatif mengembangkan soal berikut rubrik dan penskorannya sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan mengikuti langkah-langkah yang ada. Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan yang telah disiapkan oleh guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan menelaani keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina. Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan. IX. Remedial Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi tentang “Meneladani keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu sina”. Guru akan melakukan penilaian kembali lihat point 7 dengan soal yang sejenis. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan contoh pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu, atau di luar jam pelajaran 30 menit setelah jam pelajaran selesai. X. Interaksi Guru Dengan Orang Tua Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Ayo Berlatih” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan mengunakan buku penghubung kepada orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung baik langsung, maupun memalui telepon, tentang perkembangan perilaku anaknya. BAB VI AKHLAK TERPUJI I. Kompetensi Inti KI Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif, dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam, serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Mencoba, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan factual, konseptual, prosedural dan metagoknitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Mengolah, menalar, menyaji dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. II. Kompetensi Dasar KD Menghayati pentingnya nilai-nilai positif pada kompetisi dalam kebaikan fastabiqul Khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. Membiasakan berperilaku dengan semangat berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. Menjelaskan pengertian dan pentingnya perilaku semangat berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat. Optimis, dinamis, inovatif, dan kreatif. Menunjukkan contoh perilaku berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif, dan kreatif. III. Tujuan Pembelajaran Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mengkomunikasikan, diharapkan 1. Siswa dapat menjelaskan pengertian berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 2. Siswa dapat menjelaskan pentingnya berperilaku kompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 3. Siswa dapat menunjukkan contoh-contoh perilaku bekompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. IV. Indikator Pencapaian 1. Menjelaskan pengertian berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 2. Menjelaskan pentingnya berperilaku kompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 3. Menunjukkan contoh-contoh perilaku bekompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. V. Materi Pokok

A Al-Ghazali 1. Latar Belakang Al-Ghazali Beliau adalah imam Zainud Diin, Hujjatul Islam, Abu Hamid, Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Muhammad Al-Ghazali, Ath-Thusi, An-Naisaburi,seorang ulama fiqih ahli tasawuf, bermadzab fiqih syafi‟I dan beraliran tauhid Al-Asy‟ari. Lahir di kota Thuus, kota terbesar kedua negeri

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pemahaman akan Tuhan adalah sesuatu yang sentral bagi seorang muslim. Islam, yang membawa doktrin tauhid, dituntut untuk menjelaskan bagaimana maksud ajaran tauhid secara rasio. Dr. Abu al-Ala Afifi menerangkan bahwa pembahasan tentang Tuhan pada akhirnya mengantarkan ulama saat itu kepada pemahaman bahwa Tuhan adalah wujud hakiki dan yang lain adalah wujud artifisial karena yang lain itu tidak harus ada mumkin al-wujud. Konsekuensinya alam adalah ketiadaan karena yang hakiki hanyalah Allah SWT. Sebagai penjelasan pada artikel ini, setidaknya ada 4 hal yang harus bahas, yaitu Tauhid, Biografi Imam Ghazali,Pemikiran tauhid Imam Ghazali, dan Tauhid menurut bahasa yaitu masdar/kata benda dari kata yang berasal dari bahasa arab yaitu "wahhada-yuwahhidu-tauhiidan" yang artinya menunggalkan sesuatu atau keesaan. Yang dimaksud disini adalah mempercayai bahwa Allah itu esa. Sedangkan secara istilah ilmu Tauhid ialah ilmu yang membahas segala kepercayaan-kepercayaan yang diambil dari dalil dalil keyakinan dan hukum-hukum di dalam Islam termasuk hukum mempercayakan Allah itu esa. Ilmu tauhid adalah sumber semua ilmu-ilmu keislaman, sekaligus yang terpenting dan paling utama. Allah SWT berfirman "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan Yang Haq melainkan Allah." Muhammad 19 Perkara dasar yang wajib dipercayai dalam ilmu tauhid ialah perkara yang dalilnya atau buktinya cukup terang dan kuat yang terdapat di dalam Al Quran atau Hadis yang shahih. Perkara ini tidak boleh dita'wil atau ditukar maknanya yang asli dengan makna yang tauhid memiliki 4 sebutan, diantaranya sebagai berikut 'Aqa'id 'Aqdun artinya tali atau pengikat. 'Aqa'id adalah bentuk jama' dari 'Aqdun. Disebut 'Aqa'id, karena didalamnya mempelajari tentang keimanan yang mengikat hati seseorang dengan Allah, baik meyakini wujud-Nya, ke-Esaan-Nya atau Kalam kalam artinya pembicaraan. Disebut ilmu kalam, karena dalam ilmu ini banyak membutuhkan diskusi, pembahasan, keterangan-keterangan dan hujjah alasan yang lebih banyak dari ilmu lain. Ushuluddin Ushuluddin artinya pokok-pokok agama. Disebut Ilmu Ushuluddin, karena didalamnya membahas prinsip-prinsip ajaran agama, s huedang ilmu yang lainnya disebut furu'ad-Din cabang-cabang agama, yang harus berpijak diatas Ma'rifat ma'rifat artinya pengetahuan. Disebut ilmu ma'rifat, karena didalamnya mengandung bimbingan dan arahan kepada kepada umat manusia untuk mengenal Imam Ghazali Al-Ghazali nama aslinya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i lahir di Thus; 1058 / 450 H - meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52-53 tahun adalah seorang filsuf dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid.[butuh rujukan] Gelar dia al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia kini Iran. Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa dia bermazhab Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jabatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya. Di dalam muqaddimah kitab Ihya 'Ulumuddin, Dr. Badawi Thabana, menulis hasil-hasil karya Ghazali yang berjumlah 47 kitab, namun di sini penulis hanya akan mencantumkan beberapa karya al-Ghazali, antara lain 1 2 3 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya Berikutbeberapa pendapat ulama Sunni non-Wahhabi kontemporer terhadap Wahabi Salafi: 1. Dr. Ali Jumah, mufti Mesir mengatakan bahwa Wahabi Salafi adalah gerakan militan dan teror. [1] 2. Dr. Ahmad Tayyib, Syekh al-Azhar mengatakan bahwa Wahabi tidak pantas menyebut dirinya salafi karena mereka tidak berpijak pada manhaj salaf. Biografi Imam Al-Ghazali - Al Ghazali adalah seorang ulama besar Islam. Ia dijuluki hujjah al­Islam. Ia dikenal sebagai ahli filsafat dan tasawuf dan memiliki banyak karya. Pemikirannya memiliki pengaruh yang besar pada perubahan dunia. Mari kita mengenal sedikit biografi singkat tentang Imam al-Ghazali. Sejarah Singkat Al Ghazali Al Ghazali memiliki nama asli Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi. Ia lahir di kota Thusi pada tahun 450 H. Ayahnya seorang sufi yang sangat wara’ yang hanya makan dari penghasilan yang dihasilkan oleh jerih payahnya. Di dalam doanya ia senantiasa meminta kepada Allah Swt agar dikaruniai seorang anak yang pandai dan shaleh dan akhirnya Allah Swt mengabulkan do’a nya dan meuncullah al-Ghazali menjadi seorang ahli fikih. Pendidikan awal Al-Ghazali di Thus lalu ia melanjutkan belajar ke Jurjan di bidang hukum kepada Abu Nasr al Ismaili1015-1085 M. Pada usia 20 tahun ia pergi ke Nisabur untuk mendalami ilmu fikih dan tauhid kepada al Juwaini1028-1085 yang kemudian menjadi asistennya. Selain belajar fikih dan tauhid. Ia juga melakukan praktek tasawuf dibimbing oleh Abu Ali al Farmadzi w. 1084 yang menjdi murid al Imam Qusyairi 986-1072 M. Pada tahun 1091 M ia diundang oelh Nidzam al Mulk 1063-1092 M untuk menjadi guru besar di Nidzamiah, Baghdad Dari sinilah kemudian ia mulai dikenal dan memiliki posisi yang tinggi. Keteladanan al-Ghazali Al Ghazali merupakan sosok yang sangat haus dengan ilmu pengetahuan. Berbagai ilmu pengetahuan ia pelajari seperti al-Quran, ushul fikih, ilmu kalam, filsafat, fikih dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Selain haus terhadap ilmu pengetahuan, ia juga haus untuk mendalami ruhani. Oleh karena itu ia meninggalkan kota Baghdad menuju Damaskus melakukan khalwat dan i’tikaf serta mengurung diri di menara masjid kota ini. Setelah itu ia pergi menuju Bait al-Maqdis untuk meneruskan khalwatnya lalu dilanjutkan dengan menunaikan ibadah haji. Karya-karya al-Ghazali Al-Ghazali banyak meninggalkan karya tulis. Menurut penelitian terdapat sekitar 72 karya tulis dan salah satu karya yang paling monumental adalah ”Ihya Ulumuddin” menghidupkan kembali ilmu-ilmu religius yang banyak dijadikan rujukan dalam hal mempelajari ilmu Tasawuf. Karya al Ghazali di bidang filsafat dan logika, adalah Mi’yar al-’ilmi Standar Pengetahuan, Tahafut al-Falasifah Kerancuan para filosof; dalam bidang akidah Arba’in fi Ushuluddin Empat Puluh Masalah di Bidang Prinsip-Prinsip Agama, Qowaid al-’Aqa’id Prinsip-Prinsip Keimanan, dan Al-Iqtishad fl al-I’tiqad Muara Kepercayaan; di bidang Ushul Fikih al- Mustashfa fi ’ilm al Ushul Intisari ilmu tentang Dasar-Dasar Ilmu Fikih; dalam bidang tasawuf Misykat al-Anwar Ceruk Cahaya-Cahaya dan lain-lain. Akhir kehidupan / Wafatnya al-Ghazali Pada masa akhir sisa hidupnya, al-Ghazali mendirikan madrasah di sebelah rumahnya untuk para penuntut ilmu dan tempat khalwat para sufi. Seluruh waktunya ia gunakan untuk membaca dan mengkaji al-Qur’an, mempelajari hadis serta mengajar. Ia wafat pada tahun 505 H/1111 M di Thusi dalam usia lima puluh lima tahun. Baca juga Biografi Singkat Ibnu Sina👈

SyekhNawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu'ti Muhammad Nawawi ibn Umar al- Tanara al-Jawi al-Bantani. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M/1230 H. Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di

Imam Al-Ghazali adalah seorang filsuf Muslim Persia yang dikenal di dunia Barat abad pertengahan. Beliau juga dikenal dengan banyak karyanya yang memengaruhi sejarah peradaban Muslim dan pengaruhnya berdampak pada masa kini, siapakah Imam Al-Ghazali? Simak pembahasan di bawah lebih lanjut mengenai Imam Hidup Al-GhazaliImam Al-Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Al-Ghazali lahir di kota kecil yang terletak di dekat Thus, provinsi Khurasan, Republik Islam Irak pada thun 450 H 1058 M.Nama Ghazali berasal dari ghazzal yang berarti tukang menenun benang, karena pekerjaan ayahnya adalah penenun benang wol. Sedangkan Ghazali juga di ambil dari kata Ghazalah yaitu kampung kelahiran Al-Ghazali dan nama inilah yang sering dikenal dengan Imam Al-Ghazali adalah tokoh sufi yang terkenal pada abad ke-5. Ayah juga menekuni sufi dan menjadi tasawuf yang hebat di Al-Ghazali mengenal tasawuf ketika sebelum ayahnya meninggal, karena dulu orang tuanya gemar mempelajari tasawuf. Ayahnya menitipkan Al-Ghazali kepada saudaranya yang bernama Ahmad, seorang sufi dengan tujuan utnuk mendidik dan membimbing Al-Ghazali dengan Pendidikan Al-GhazaliKarena Al-Ghazali sejak kecil memang senang mempelajari ilmu pengetahuan dan sudah belajar dengan beberapa guru di kota kelahirannya. Gurunya di antara lain bernama Ahmad Ibnu Muhammad Al tahun 465-470 H ketika Al-Ghazali berusia 15 tahun memutuskan pergi ke Mazardaran, Jurjan untuk melanjutkan studinya dalam bidang fiqh di bawah bimbingan Abu Nasr al-Ismaily selama 2 menamatkan studinya di Jurjan, pada usia ke 20 tahun Al-Ghazali melanjutkan pendidikannya ke madrasah Nizamiyah Nizabur dan berguru kepada Yusuf Al-Nassaj seorang pemuka agama yang terkenal dengan sebutan Immanuel Haramain ata Al-Juwayni Al-Haramain seorang ulama Syafi’iyyah beraliran Asy’ariyyah hingga pada usia 28 diberi gelar Bahrum Mughriq laut yang menenggelamkan. Al-Ghazali meninggalkan Naisabur setelah Imam Al Juwaini meninggal dunia pada tahun 478 H 1085 M, kemudian Ia mengunjungi Nizhdm al-Mar di kota Muaskar dan mendapatkan penghormatan yang besar sehingga diperbolehkan tinggal disana selama 6 tahun 1090 M Al Ghazali diangkat menjadi guru di Universitas Nizhfimiyah, Baghdad. Selain mengajar, Al Ghazali juga belajar filsafat secara otodidak, baik filsafat Yunani maupun filafat Islam, terutama pemikiran al-Farabi, Ibnu Sina dan Ikhwan terhadap filsafat terbukti pada Besar Al GhazaliKarya-Karya Imam Al-Ghazali masih belum disepakati berapa banyak jumlahnya, dalam Thasi Kubra Zadeh di dalam Miftah as-Sa’adah wa Misbah as-Syiyadah disebutkan karyanya mecapai 60 buah. Ada yang menyebut Al-Ghazali telah memiliki 999 buah tulisannya meliputi berbagai ilmu pengetahuan. Dan berikut adalah beberapa warisan dari karya ilmiah yang paling besar pengaruhnya terhadap pemikiran umat Islam Maqfishid Al Falisifah tujuan-tujuan pada filosofi adalah karangan pertama berisi masalah-masalah Al Faldsifah kekacauan pikiran para filosof yang dikarang ketika jiwanya dilanda keraguan-keraguan di Baghdad dan Al-Ghazali mengecam filsafat para filosof dengan Al Ilm kriteria ilmu-ilmu.Ibya Ulum Ad Din menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama, merupakan karya terbesar selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Damaskus, Yerussalem, Hijfiz dan Thus yang berisi panduan antara fiqih, tasawuf, dan Munqidz Min Ad Dialfil penyelamat dari kesatuan, merupakan sejarah perkebangan alam pikiran Al Ghazali dan merefleksikan sikapnya terhadap beberapa maam ilmu serta jalan mencapai Malirif Al Aqliyyah pengetahuan yang rasional.Misykat Al Anwar lampu yang bersinar banyak, pembahasan akhlaq At Abidin mengabdikan diri pada Tuhan, merupakan bacaan mengeni beriman kepada Allah SWT semua ibadahnya dan amalannya hanya untuk Tuhan, karena itu cara untuk mendekatkan dirinya dengan sang Iqtishad fi Al I’tiqad moderasi dalam akidah mengikuti ajaran dalam agama dan kepercayaan Al Walad wahai anak mengajarkan tentang akhlak seorang anak dalam akidah Mustasyfa yang terpilih orang yang terpilih dalam organisasi dalam Al Awwam’an al Kalam perkataan Tuhan kepada manusia.Mizan Al Amal timbangan amal tentang akhlak amal tersebut menjadi objek penelitian bagi pelajar dan ahli-ahli mulai dari kalangan umat Islam maupun dari kalangan Masa Tua Al-Ghazali Hingga Akhir HayatKehidupan Al-Ghazali pada masa tuanya telah mantap menjadi seorang sufi. Keyakinan Al-Ghazali bahwa tasawuf adalah jalan terbaik yang akan mengantarkan pada kebenaran berhenti mengajar, Al-Ghazali kembali ke kota kelahirannya di Thus dan mendirikan sebuah halaoh sekolah khusu untuk calon sufi yang akan Al-Ghazali asuh sendiri sampai Ia wafat pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H 1111 M dalam usianya yang ke 55 tahun dengan meninggalkan beberapa anak wafat dalam keadaan ketika sedang mempelajari ilmu tentang tradisi. Tapi, sumber lain mengatakan, Al-Ghazali sedang mempelajari Shahih Bukhari dan Sunan Abu Daud. Dan meninggal dunia dalam keadaan memeluk kitab Sahih Bukhari.

2 Siapakah guru pertama al-Ghazali di bidang tauhid a. Al Juwaini b. Washil bin al Atha c. Abu Hasan al 'Asy'ari d. Ali al Juba'i e. Qadhi Abdul Jabbar 3. Ayah al-Ghazali adalah seorang tokoh a. hadis b. fikih c. ushul Fikih d. tasawuf e. bahasa Arab 4. Apa yang dilakukan oleh al-Ghazali saat pindah dari Baghdad menuju Damaskus a.

Imam Abu Hamid Muhammad dan lebih dikenal dengan al-Ghazali adalah salah seorang ilmuwan yang sangat masyhur, baik itu di dunia Barat maupun Timur. Kehadirannya banyak memberikan khasanah dan peninggalan berharga bagi kehidupan manusia. Sosok figur al-Ghazali sebagai pengembara ilmu yang sarat akan pengamalan, mengantarkan posisinya menjadi tokoh di segala bidang ilmu agama dan dikenang di setiap zaman. Kegigihan Imam al-Ghazali dalam menelusuri kebenaran ilmu berbekal kecerdasan dan pemikirannya yang cemerlang menghasilkan ciri keulamaan sekaligus kecendikiaannya. Yang mana hal ini membuatnya pantas menyandang gelar sebagai Hujjatul Islam. Selain seorang teolog dan sufi muslim yang disegani, al-Ghazali memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan. Imam Al-Ghazali dan Pendidikan Di antara karya besarnya yakni Ihya al-Ulumuddin, Fatihat al-Ulum, dan Mizan al-Amal, adalah tiga di antara karyanya yang berisi tentang pandangannya terhadap persoalan-persoalan pendidikan. Salah satu persoalan pendidikan yang mendapat perhatian besar dari al-Ghazali adalah perihal guru dan kaitannya dengan proses pendidikan. Al-Ghazali mempergunakan istilah pendidik dengan berbagai kata seperti al-Muallimin guru, al-Mudarris pengajar, dan al-Walid orangtua. Bagi beliau, guru atau pendidik bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran dengan cakupan yang lebih luas. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, al-Ghazali mengungkapkan bahwa apabila ilmu pengetahuan itu lebih utama dalam segala hal, maka mempelajarinya merupakan kemuliaan. Pengajar ilmu akan mendapatkan faedah dari keutamaan dan kemuliaan itu. Hal ini bermakna mengajar dan mendidik adalah perbuatan sangat mulia, karena secara naluri orang yang berilmu itu dimuliakan dan dihormati oleh orang. Guru Profesi Mulia Ilmu pengetahuan itu sendiri sangat mulia dan mempelajarinya merupakan ajaran agung Islam, maka mengajarkannya adalah memberi kemuliaan. Akan tetapi posisi pengajar dalam masyarakat modern dewasa ini lebih sering dianggap sebatas petugas semata yang mendapat gaji dari negara atau instansi yang tanggung jawabnya tertentu. Tugas dan tanggung jawab pun menjadi kering dan terasa formal. Padahal sesungguhnya tugas mengajarkan ilmu itu menduduki posisi terhormat dan mulia. Kehormatan dan kemulian yang disandang guru membawa konsekuensi logis bahwa pengajar lebih dari sekadar petugas yang hanya menerima gaji. Guru sebagai figur teladan mesti memperlakukan anak didiknya dengan sebaik-baiknya. Anak didik sebagai manusia yang mudah dipengaruhi, sifat-sifatnya mesti dibentuk dan untuk mengenal peraturan moral serta ajaran ilahi. Itulah sebabnya seorang guru tak cukup hanya mengandalkan kepandaian atau kepemilikan otoritas disiplin ilmu tertentu saja. Dia haruslah orang yang berbudi dan beriman sekaligus pandai beramal. Tingkah laku guru dapat memberikan pengaruh langsung pada kepribadian anak didiknya. Jika hal ini dapat dimanifestasikan dengan baik, maka rasa hormat anak didik terhadap sang pengajar akan datang sehingga pelajaran hidup dapat mudah merasuk ke dalam hati anak didik. Ilmu Bermanfaat Dengan demikian, guru adalah orang yang menempati status mulia. Gurulah yang memasukkan pendidikan akhlak dan keagamaan dalam hati sanubari muridnya. Sedangkan jiwa manusia adalah unsur paling mulia pada bagian tubuh manusia. Dan manusia merupakan makhluk yang paling mulia, dibandingkan dengan makhluk lainnya. Menurut al-Ghazali, dalam mengajarkan ilmu pengetahuan seorang guru hendaknya memberikan penekanan pada upaya membimbing dan membiasakan amal. Hal ini agar ilmu yang diajarkan tidak hanya dipahami dan dikuasai, akan tetapi lebih dari itu perlu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat kualitas ilmu yang diajarkan memang bukan pada hafalan atau teori semata, melainkan pada pengamalannya. Seorang guru dianggap berhasil manakala hal yang diajarkannya dapat diamalkan oleh sang murid. Dari sanalah pahala ilmu jariyah itu akan mengalir berupa ilmu yang bermanfaat.* Gian *disunting dari Guru dalam Perspektif Pendidikan Islam oleh Rahman Padung ket ilustrasi foto diambil saat sebelum pandemi

MenteriNizamul Muluk melantik Al Ghazali pada tahun 484 H menjadi guru besar pada Perguruan Tinggi Nizamiah yang didirikan di kota Baghdad.

- Al-Ghazali memberikan pengaruh signifikan kepada para filsuf dari lintas agama pada abad pertengahan. Al-Ghazali lahir pada 450 H atau antara Maret 1058 hingga Februari 1059 M dengan nama asli Abu Hamind ibn Muhammad atau dikenal sebagai Algazel oleh orang Barat, adalah teolog Muslim, ahli hukum, filsuf, dan seorang mistik dari Persia. Ia lahir di kota Tabaran di distrik Tus yang sekarang terletak di Iran modern. Baca juga [Biografi Tokoh Dunia] Abbas Ibnu Firnas, Orang Pertama Pencipta Mesin Penerbangan dari Abad ke-8 Menurut catatan biografi tokoh dunia yang dilansir dari Famous Philosophers, ayah Al-Ghazali meninggal di tengah kemiskinan yang parah. Sang ayah menitipkan Al-Ghazali dan adik laki-lakinya, Ahmad, dalam perawatan seorang sufi. Al-Ghazali mulai menerima pengajaran ilmu hukum Islam dari seorang guru lokal bernama Ahmad al-Radhakani. Haus ilmu, Al-Ghazali kemudian pergi berguru dengan Al-Juwayni di Nishapur tentang ilmu hukum dan teologi. Ia berguru hingga ajal menjemput Al-Juwayni. Setelah itu, Al-Ghazali kemudian bergabung menjadi pemimpin agama di istana Nizam al-Mulk, yang saat itu menjadi wazir atau setara perdana menteri dari sultan Suljuk di Isfahan pada 1085. Atas dedikasi pada ilmu agama dan penerapannya, Al-Ghazali dianugerahi gelar "Kecemerlangan Agama" dan "Mulia di antara Para Pemimpin Agama". Baca juga [Biografi Tokoh Dunia] Ibnu Khaldun, Sejarawan Muslim Peletak Dasar Ilmu Sosial Dunia Pada 1091, Nizam al-Mulk mempromosikan Al-Ghazali menjadi guru besar di madrasah Nizamiyya di Baghdad. Namun, 4 tahun kemudian, pada 1095, Al-Ghazali mengalami krisis spiritual. Guru besar ini lalu meninggalkan kariernya di Baghdad untuk pergi berziarah ke Mekkah. Dia menghabiskan beberapa waktu di Damaskus dan Yerusalem, dalam perjalanannya mengunjungi Mekkah dan Madinah pada 1096, Al-Ghazali kembali ke Tus menghabiskan beberapa tahun berikutnya dalam pengasingan, yang tidak mengikuti ajaran yang disokong oleh negara. Namun, Al-Ghazali tetap menerbitkan karya, menerima tamu, serta mengajar di madrasah swasta dan biara Sufi yang dibangunnya. Wazir Agung Ahmad Sanjar, Fahr al-Mulk, mendesak Ghazali untuk kembali ke Nizamiyya di Nishapur. Awalnya, ia bersikeras menolak, tetapi akhirnya diterimanya pada 1106. Baca juga [Biografi Tokoh Dunia] John Philip Holland, Pencipta Kapal Selam Modern Selama hidup al-Ghazali ia menulis lebih dari 70 buku tentang sains, filsafat Islam, dan tasawuf. Al-Ghazali menerbitkan bukunya The Incoherence of Philosophers, hal ini ditandai sebagai titik balik dalam epistemologi Islam. Pandangan skeptisismenya membuat Al-Ghazali membentuk keyakinan bahwa semua peristiwa dan interaksi bukanlah produk dari konjungsi material, melainkan kehendak Tuhan yang hadir dan langsung. Karya Al-Ghazali lainnya yang paling terkenal adalah Ihya "Ulum al-Din" atau Kebangkitan Ilmu Agama. Karya tersebut mencakup hampir semua bidang ilmu Islam. Ini termasuk yurisprudensi Islam, teologi, dan tasawuf. Buku tersebut mendapat banyak komentar positif. Baca juga [Biografi Tokoh Dunia] Charlemagne, Penguasa Eropa Abad Pertengahan yang Ubah Rakyatnya Jadi Kristen Al-Ghazali kemudian menulis versi ringkas dari "The Revivial of Religious Sciences in Persia" dengan judul "Kimiya-yi sa'adat" yang juga dikenal sebagai "The Alchemy of Happiness". Al-Ghazali memberikan pengaruh signifikan kepada para filsuf dari lintas agama pada abad pertengahan. Salah satu yang paling terpengaruh adalah St Thomas Aquinas. Al-Ghazali juga memainkan peran utama dalam menggabungkan Sufisme dan Syariah. Dia adalah orang pertama yang menggabungkan konsep tasawuf ke dalam hukum Syariah dan yang pertama memberikan deskripsi formal tasawuf dalam karya-karyanya. Al-Ghazali kembali ke Tus pada 1110 dan menolak undangan wazir agung Muhammad I untuk kembali ke Baghdad. Menurut sebagian besar sejarawan dan catatan biografi tokoh dunia, Al-Ghazali meninggal pada 18 Desember 1111. Baca juga [Biografi Tokoh Dunia] Ibnu Sina, Filsuf Muslim Perintis Ilmu Kedokteran Dunia Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
MuhammadArsyad al-Banjari sendiri berasal dari daerah asalnya yakni Banjar. beliau merupakan seorang anak dari Abdullah dan Amina, akan tetapi berkat kecerdasannya Beliau diangkat anak oleh Sultan Tahmidullah. Muhammad Arsyad al-Banjari menghabiskan masa kecilnya di sekitar istana kerajaan hingga menikah dengan anak raja.
PENDIRI ILMU TAUHID Orang yang pertama tama mendirikan atau menyusun ilmu tauhid ialah Abu Hasan Al-Asyari dan Abu Manshur al-Maturidi dan pengikut pengikut mereka. Tentu kita jangan hanya mengetahui nama nama mereka sebagai pendiri pendiri ilmu Tauhid tapi sekurang kurangnya harus mengetahui siapa mereka itu? Di bawah ini terlampir ringkasan sejarah mereka 1- ABU AL-HASAN AL-ASY’ARI Nama lengkapnya Abu Al-Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Bisyr Ishaq al-Asy’ari al-Yamani al-Bashri. Al-Asy’ari kabilah yang berasal dari Yaman, tapi beliau lahir dan besar di Bashrah – Iraq. Abu al-Hasan Al-Asy’ari lahir di Basra tahun 260 H, namun sebagian besar hidupnya di Baghdad sampai beliau wafat tahun 324H. Beliau adalah seorang pemikir muslim pendiri paham Asy’ari. Sebelum mendirikan faham Asy’ari, beliau sempat berguru pada seorang Mu’tazilah terkenal, yaitu Abi Ali al-Jubba’i, namun pada tahun 299 H dia mengumumkan keluar dari faham Mu’tazilah, dan mendirikan faham baru yaitu faham atau thariqah Ahli Sunnah Wal Jamaah yang kemudian dikenal sebagai thariqah Asy’ariah. Banyak tokoh pemikir islam yang mendukung pemikiran-pemikiran beliau, salah satunya yang terkenal adalah Imam besar Al-Ghazali, terutama di bidang ilmu Kalam, Tauhid dan Ushuludin. Walaupun banyak juga ulama yang menentang pamikirannya, tetapi banyak masyarakat muslim yang mengikuti pemikirannya. Orang-orang yang mengikuti dan mendukung pendapat dan faham beliau dinamakan pengikut “Asy’ariyyah”, bahkan tidak sedikit nama nama mereka dinisbatkan kepada nama imamnya Al-Asy’ari. Diantaranya pengarang kitab ini ”Al’Aqaid Ad-Diniyyah”, Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf sangat menyenangi jika namanya dinisbatkan kepada nama Abu Hasan Al-Asy’ari Di Asia mayoritas penduduknya muslim banyak yang mengikuti faham imam Abu Hasan Al-Asy’ari, yang diserasikan dengan faham ilmu Tauhid yang dikembangkan oleh Imam Abu Manshur Al-Maturidi terutama pelajaran yang menyangkut pengenalan sifat-sifat Allah yang terkenal dengan nama “sifat 20”. Pelajaran ini banyak diajarkan di pesantren-pesantren di seluruh Indoneisa, dan di sekolah-sekolah formal pada umumnya seperti Jamiat Khair dahulu yang dipelopori oleh Habib Utsman bin Yahya dan Habib Ali Al-Habsyi. 2- ABU MANSHUR AL-MATURIDI Abu Manshur Muhammad bin Muhammad al-Maturidi As-Samarqandi berasal diri daerah Maturid di Samarqand- Uzbekistan. Tidak diketahui dengan jelas tahun kelahiranya, tapi bisa dikatakan bahwa beliau lahir pada masa pemerintahan khalifah Al-Mutawakil Al-Abbasi, dan diperkirakan beliau lebih muda dari Abu al-Hasan Al-Asy’ari 20 tahunan Abu Manshur al-Maturidi sama dengan Abu al-Hasan Al-Asy’ari adalah pemikir muslim dan pendiri faham Ahli Sunnah Wal Jama’ah dengan dalil dalil yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw dan juga bersendarkan kepada dalil Aqli. sehingga dia diberi julukan “Imam Al-Huda” atau “Imam al-Mutakalimin”. Abu Mansur al-Maturidi dan Abu al-Hasan merupakan tokoh tokoh pertama yang mendirikan faham Ahli Sunnah Wal Jama’ah terutama dalam ilmu yang bersangkutan dengan Aqidah dan mengenal Allah. Pemikiran Abu Manshur berkisar sekitar ilmu Ta’wil al-Qur’an, Usul Fiqih, Ilmu Kalam, Tauhid dll. Setelah beliau menerapkan pemikirannya kepada masyarakat, beliau mulai mencatatnya dan meluncurlah setelah itu beberapa buku beliau terutama tentang ilmu Akidah diantara kitab kitab beliau yang terkenal adalah “at-Tauhid”, “Ar-Rad Ala Al-Qaramithah”, “Bayan Wahmi al-Mu’tazilah” dan masih banyak lagi kitab kitab beliau yang bertujuan untuk mempertahankan akidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Telah disebut dalam beberapa marja’ bahwa Abu Manshur Al-Maturidi wafat pada tahun 332H di Samarqand dan kuburannya sangat dikenal masyarakat setempat. Wallahu’alam Filed under Uncategorized

Setelahal-Ghazali menemukan pengetahuan yang hakiki pada akhir hidupnya, ia meninggal dunia di Thus pada 14 Jumadil Akhir505 H atau 19 Desember 1111M, di hadapan adiknya, Abu Ahmadi Mujidduddin. Al-Ghazali meninggalkan 3 orang anak perempuan sedang anak laki-lakinya (Hamid) telah meninggal dunia semenjak kecil.

Suatu malam disaat orang sedang terlelap, Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat itu masih muda dan sedang berguru kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabbal Qubis Makkah sedang membersihkan kamar mandi Gurunya menggunakan kedua tangannya tanpa merasa jijik dan melakukan dengan penuh ikhlas. Di saat Beliau melakukan tersebut, tiba-tiba Guru Syekh Sulaiman Zuhdi lewat dan berkata, “Kelak tanganmu akan di cium raja-raja dunia”. Ucapan Gurunya itu dikemudian hari terbukti dengan banyak raja yang menjadi murid Beliau dan mencium tangan Beliau salah satunya adalah Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja di Kerajaan Langkat, Sumatera Utara. Kisah berguru dalam ilmu hakikat mempunyai keunikan tersendiri, seperti kisah Sunan Kalijaga yang menjaga tongkat Gurunya dalam waktu lama, dengan itu Beliau lulus menjadi seorang murid. Berikut kisah Ulama Besar Imam Al-Ghazali memperoleh pencerahan bathin bertemu dengan pembimbing rohaninya, kisah ini saya di kutip dari Buku Tuntunan Mencapai Hidayah Ilahi hal. 177, 178. Karya Imam Al Ghazali dari web Imam Ghazali seorang Ulama besar dalam sejarah Islam, hujjatul islam yang banyak hafal hadist Nabi SAW. Beliau dikenal pula sebagai ahli dalam filsafat dan tasawuf yang banyak mengarang kitab-kitab. Suatu ketika Imam Al Ghazali menjadi imam disebuah masjid . Tetapi saudaranya yang bernama Ahmad tidak mau berjamaah bersama Imam Al Ghazali lalu berkata kepadanya ibunya “Wahai ibu, perintahkan saudaraku Ahmad agar shalat mengikutiku, supaya orang-orang tidak menuduhku selalu bersikap jelek terhadapnya“. Ibu Al Ghazali lalu memerintahkan puteranya Ahmad agar shalat makmum kepada saudaranya Al Ghazali. Ahmad pun melaksanakan perintah sang ibu, shalat bermakmum kepada Al ditengah-tengah shalat, Ahmad melihat darah membasah perut Imam. Tentu saja Ahmad memisahkan diri. Seusai shalat Imam Al Ghazali bertanya kepada Ahmad, saudaranya itu “Mengapa engkau memisahkan diri muffaragah dalam shalat yang saya imami ? “. Saudaranya menjawab “Aku memisahkan diri, karena aku melihat perutmu berlumuran darah “. Mendengar jawaban saudaranya itu, Imam Ali Ghazali mengakui, hal itu mungkin karena dia ketika shalat hatinya sedang mengangan-angan masalah fiqih yang berhubungan haid seorang wanita yang mutahayyirah. Al Ghazali lalu bertanya kepada saudara “Dari manakah engkau belajar ilmu pengetahuan seperti itu ?” Saudaranya menjawab, “Aku belajar Ilmu kepada Syekh Al Utaqy AL-Khurazy yaitu seorang tukang jahit sandal-sandal bekas tukang sol sepatu . ” Al Ghazali lalu pergi kepadanya. Setelah berjumpa, Ia berkata kepada Syekh Al khurazy “Saya ingin belajar kepada Tuan “. Syekh itu berkata Mungkin saja engkau tidak kuat menuruti perintah-perintahku “. Al Ghazali menjawab “Insya Allah, saya kuat “. Syekh Al Khurazy berkata “Bersihkanlah lantai ini “. Al Ghazali kemudian hendak dengan sapu. Tetapi Syekh itu berkata “Sapulah bersihkanlah dengan tanganmu“. Al Ghazali menyapunya lantai dengan tangannya, kemudian dia melihat kotoran yang banyak dan bermaksud menghindari kotoran itu. Namun Syekh berkata “Bersihkan pula kotoran itu dengan tanganmu“. Al Ghazali lalu bersiap membesihkan dengan menyisingkan pakaiannya. Melihat keadaan yang demikian itu Syekh berkata “Nah bersìhkan kotoran itu dengan pakaian seperti itu” . Al Ghazali menuruti perintah Syekh Al Khurazy dengan ridha dan tulus. Namun ketika Al Ghazali hendak akan mulai melaksanakan perintah Syekh tersebut, Syekh langsung mencegahnya dan memerintahkan agar pulang. Al Ghazali pulang dan setibanya di rumah beliau merasakan mendapat ilmu pengetahuan luar biasa. Dan Allah telah memberikan Ilmu Laduni atau ilmu Kasyaf yang diperoleh dari tasawuf atau kebersihan qalbu kepadanya.
Dalamhal ini, Al-Attas sepakat dengan Al-Ghazali bahwa kemuliaan sebuah ilmu ditentukan oleh buahnya dan keaslian prinsip-prinsipnya, dan yang pertama itu lebih penting dari yang kedua. Sebagai contoh, walaupun tidak setepat ilmu matematika, ilmu kedokteran lebih penting bagi seseorang. Siapakah Guru pertama Al-Ghazali bidang Tauhid? Al- Juawaini Washil bin al Atha Abu Hasan al Asya’ari Ali al Juba’i Qadhi Abdul Jabbar Jawaban yang benar adalah A. Al- Juawaini. Dilansir dari Ensiklopedia, siapakah guru pertama al-ghazali bidang tauhid Al- Juawaini. Pembahasan dan Penjelasan Menurut saya jawaban A. Al- Juawaini adalah jawaban yang paling benar, bisa dibuktikan dari buku bacaan dan informasi yang ada di google. Menurut saya jawaban B. Washil bin al Atha adalah jawaban yang kurang tepat, karena sudah terlihat jelas antara pertanyaan dan jawaban tidak nyambung sama sekali. Menurut saya jawaban C. Abu Hasan al Asya’ari adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut lebih tepat kalau dipakai untuk pertanyaan lain. Menurut saya jawaban D. Ali al Juba’i adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut sudah melenceng dari apa yang ditanyakan. Menurut saya jawaban E. Qadhi Abdul Jabbar adalah jawaban salah, karena setelah saya coba cari di google, jawaban ini lebih cocok untuk pertanyaan lain. Kesimpulan Dari penjelasan dan pembahasan serta pilihan diatas, saya bisa menyimpulkan bahwa jawaban yang paling benar adalah A. Al- Juawaini. Jika anda masih punya pertanyaan lain atau ingin menanyakan sesuatu bisa tulis di kolom kometar dibawah. Sebab al-Ghazali merupakan guru istana dan mufti Najibullah, Islamic Literature, New York, Washington Square, 1963, 126 Berdasarkan uraian tentang sumber dan corak pemikiran tasawuf al-Ghazali di atas, maka ada beberapa kesimpulan yang bisa dirumuskan dari sistem pemikiran tasawuf al-Ghazali, yaitu: pertama, dengan menggunakan istilah al

Tempat Kelahiran Imam Al- Ghazali Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan Hujjatul Islam argumentator islam karena jasanya yang besar di dalam menjaga islam dari pengaruh ajaran bid’ah dan aliran rasionalisme yunani. Beliau lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazalah suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasah yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia islam. Beliau dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana, ayahnya adalah seorang pengrajin wol sekaligus sebagai pedagang hasil tenunannya, dan taat beragama, mempunyai semangat keagamaan yang tinggi, seperti terlihat pada simpatiknya kepada ulama dan mengharapkan anaknya menjadi ulama yang selalu memberi nasehat kepada umat. Itulah sebabnya, ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya imam al-Ghazali dan saudarnya Ahmad, ketika itu masih kecil dititipkan pada teman ayahnya, seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan bimbingan dan didikan. Meskipun dibesarkan dalam keadaan keluarga yang sederhana tidak menjadikan beliau merasa rendah atau malas, justru beliau semangat dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, dikemudian beliau menjelma menjadi seorang ulama besar dan seorang sufi. Dan diperkirakan imam Ghazali hidup dalam kesederhanaan sebagai seorang sufi sampai usia 15 tahun 450-456. Pendidikan dan Perjalanan Mencari Ilmu Perjalanan imam Ghazali dalam memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya. Kepada ayahnya beliau belajar Al-qur’an dan dasar-dasar ilmu keagamaan ynag lain, di lanjutkan di Thus dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Setelah beliau belajar pada teman ayahnya seorang ahli tasawuf, ketika beliau tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan keduanya, beliau mengajarkan mereka masuk ke sekolah untuk memperoleh selain ilmu pengetahuan. Beliau mempelajari pokok islam al-qur’an dan sunnah nabi.Diantara kitab-kitab hadist yang beliau pelajari, antara lain a. Shahih Bukhori, beliau belajar dari Abu Sahl Muhammad bin Abdullah Al Hafshi b. Sunan Abi Daud, beliau belajar dari Al Hakim Abu Al Fath Al Hakimi c. Maulid An Nabi, beliau belajar pada dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Khawani d. Shahih Al Bukhari dan Shahih Al Muslim, beliau belajar dari Abu Al Fatyan Umar Al Ru’asai. Begitu pula diantarnya bidang-bidang ilmu yang di kuasai imam al-Ghazli ushul al din ushul fiqh, mantiq, flsafat, dan tasawuf. Santunan kehidupan sebagaimana lazimnya waktu beliau untuk belajar fiqh pada imam Kharamain, beliau dalam belajar bersungguh-sungguh sampai mahir dalam madzhab, khilaf perbedaan pendapat, perdebatan, mantik, membaca hikmah, dan falsafah, imam Kharamain menyikapinya sebagai lautan yang luas. Setelah imam kharamain wafat kemudian beliau pergi ke Baghdad dan mengajar di Nizhamiyah. Beliau mengarang tentang madzhab kitab al-basith, al- wasith, al-wajiz, dan al- khulashoh. Dalam ushul fiqih beliau mengarang kitab al-mustasfa, kitab al- mankhul, bidayatul hidayah, al-ma’lud filkhilafiyah, syifaal alil fi bayani masa ilit dan kitab-kitab lain dalam berbagai fan. Antara tahun 465-470 H. imam Al-Ghazali belajar fiqih dan ilmu-ilmu dasar yang lain dari Ahmad Al- Radzaski di Thus, dan dari Abu Nasral Ismailli di Jurjan. Setelah imam al-Ghazali kembali ke Thus, dan selama 3 tahun di tempat kelahirannya, beliau mengaji ulang pelajaran di Jurjan sambil belajar tasawuf kekpada Yusuf Al Nassaj w-487 H. pada tahun itu imam Al-Ghazali berkenalan dengan al-Juwaini dan memperoleh ilmu kalam dan mantiq. Menurut Abdul Ghofur itu Ismail Al- Farisi, imam al-Ghozali menjadi pembahas paling pintar di zamanya. Imam Haramain merasa bangga dengan pretasi muridnya. Walaupun kemashuran telah diraih imam al Ghazali beliau tetap setia terhadap gurunya sampai dengan wafatnya pada tahun 478 H. sebelum al Juwani wafat, beliau memperkenalkan imam al Ghazali kepada Nidzham Al Mulk, perdana mentri sultan Saljuk Malik Syah, Nidzham adalah pendiri madrasah al nidzhamiyah. Di Naisabur ini imam al Ghazali sempat belajar tasawuf kepada Abu Ali Al Faldl Ibn Muhammad Ibn Ali Al Farmadi H/1084 M. Setelah gurunya wafat, al Ghazali meninggalkan Naisabur menuju negri Askar untuk berjumpa dengan Nidzham al Mulk. Di daerah ini beliau mendapat kehormatan untuk berdebat dengan ulama. Dari perdebatan yang dimenengkan ini, namanya semakin populer dan disegani karena keluadan ilmunya. Pada tahun 484 H/1091 Grand, imam al Ghazali diangkat menjadi guru besar di madrasah Nidzhamiyah, ini dijelaskan salam bukunya al mungkiz min dahalal. Selama megajar di madrasah dengan tekunnya imam al Ghozali mendalami filsafat secara otodidak, terutama pemikiran al Farabi, Ibn Sina Ibn miskawih dan Ikhwan Al Shafa. Penguasaanya terhadap filsafat terbukti dalam karyanya seperti al maqasid falsafah tuhaful al falasiyah. Pada tahun 488 H/1095 Thousand, imam al Ghazali dilanda keraguan skeptis terhadap ilmu-ilmu yang dipelajarinya hukum teologi dan filsafat. Keraguan pekerjaanya dan karya-karya yang dihasilkannya, sehingga beliau menderita penyakit selama dua bulan dan sulit diobati. Karena itu, imam al Ghazali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai guru besar di madrasah nidzhamiyah, yang akhirnya beliau meninggalkan Baghdad menuju kota Damaskus, selam kira-kira dua tahun imam al Ghazali di kota Damaskus beliau melakukan uzlah, riyadah, dan mujahadah. Kemudian beliau pihdah ke Bait al Maqdis Palestina untuk melakukan ibadah serupa. Sektelah itu tergerak hatinya untuk menunaikan ibadah haji dan menziarohi maqom Rosulullah Saw. Sepulang dari tanah suci, imam al Ghazali mengunjungi kota kelahirannya di Thus, disinilah beliau tetap berkhalwat dalam keadaan skeptis sampai berlangsung selama ten tahun. Pada periode itulah beliau menulis karyanya yang terkenal ” ihya’ ulumuddin al-din” the revival of the religious menghidupkan kembali ilmu agama. Karena disebabkan desakan pada madrasah nidzhamiyah di Naisabur tetapi berselang selam dua tahun. Kemudian beliau madrasah bagi para fuqoha dan jawiyah atau khanaqoh untuk para mustafifah. Di kota inilah Thus beliau wafat pada tahun 505 H / ane desember 1111 One thousand. Abul Fajar al-Jauzi dalam kitabnya al asabat inda amanat mengatakn, Ahmad saudaranya imam al Ghazali berkata pada waktu shubuh, Abu Hamid berwudhu dan melakukan sholat, kemudian beliau berkata Ambillah kain kafan untukku kemudian ia mengambil dan menciumnya lalu meletakkan diatas kedua matanya, beliau berkata ” Aku mendengar dan taat untuk menemui Al Malik kemudian menjulurkan kakinya dan menghadap kiblat. Imam al Ghazali yag bergelar hujjatul islam itu meninggal dunia menjelang matahari terbit di kota kelahirannya Thus pada hari senin 14 Jumadil Akir 505 H 1111 M. Imam al Ghazali dimakamkan di Zhahir al Tabiran, ibu kota Thus. Guru dan Panutan Imam Al Ghazali Imam al Ghazali dalam perjalanan menuntut ilmunya mempunyai banyak guru, diantaranya guru-guru imam Al Ghazali sebagai berikut 1. Abu Sahl Muhammad Ibn Abdullah Al Hafsi, beliau mengajar imam Al Ghozali dengan kitab shohih bukhori. 2. Abul Fath Al Hakimi At Thusi, beliau mengajar imam Al Ghozali dengan kitab sunan abi daud. 3. Abdullah Muhammad Bin Ahmad Al Khawari, beliau mengajar imam Ghazali dengan kitab maulid an nabi. 4. Abu Al Fatyan Umar Al Ru’asi, beliau mengajar imam Al Ghazali dengan kitab shohih Bukhori dan shohih Muslim. Dengan demikian guru-guru imam Al Ghazali tidak hanya mengajar dalam bidang tasawuf saja, akan tetapi beliau juga mempunyai guru-guru dalam bidang lainnya, bahkan kebanyakan guru-guru beliau dalam bidang hadist. Murid-Murid Imam Al Ghazali Imam Al Ghazali mempunyai banyak murid, karena beliau mengajar di madrasah nidzhamiyah di Naisabur, diantara murid-murid beliau adalah 1. Abu Thahir Ibrahim Ibn Muthahir Al- Syebbak Al Jurjani H. ii. Abu Fath Ahmad Bin Ali Bin Muhammad Bin Burhan 474-518 H, semula beliau bermadzhab Hambali, kemudian setelah beliau belajar kepada imam Ghazali, beliau bermadzhab Syafi’i. Diantara karya-karya beliau al ausath, al wajiz, dan al wushul. 3. Abu Thalib, Abdul Karim Bin Ali Bin Abi Tholib Al Razi H, beliau mampu menghafal kitab ihya’ ulumuddin karya imam Ghazali. Disamping itu beliau juga mempelajari fiqh kepada imam Al Ghazali. 4. Abu Hasan Al Jamal Al Islam, Ali Bin Musalem Bin Muhammad Assalami H. Karyanya ahkam al khanatsi. v. Abu Mansur Said Bin Muhammad Umar 462-539 H, beliau belajar fiqh pada imam Al Ghazali sehingga menjadi ulama besar di Baghdad. 6. Abu Al Hasan Sa’advertizement Al Khaer Bin Muhammad Bin Sahl Al Anshari Al Maghribi Al Andalusi H. beliau belajar fiqh pada imam Ghozali di Baghdad. 7. Abu Said Muhammad Bin Yahya Bin Mansur Al Naisabur 476-584 H, beliau belajar fiqh pada imam Al Ghazali, diantara karya-karya beliau adalah al mukhit fi sarh al wasith fi masail, al khilaf. 8. Abu Abdullah Al Husain Bin Hasr Bin Muhammad 466-552 H, beliau belajar fiqh pada imam Al Ghazali. Diantar karya-karya beliau adalah minhaj al tauhid dan tahrim al ghibah.[15] Dengan demikian imam al ghozali memiliki banyak murid. Diantara murid–murid beliau kebanyakan belajar fiqh. Bahkan diantara murid- murid beliau menjadi ulama besar dan pandai mengarang kitab. Karya-Karya Imam Al Ghazali Imam Al Ghozali termasuk penulis yang tidak terbandingkan lagi, kalau karya imam Al Ghazali diperkirakan mencapai 300 kitab, diantaranya adalah one. Maqhasid al falasifah tujuan para filusuf, sebagai karangan yang pertama dan berisi masalah-masalah filsafah. 2. Tahaful al falasifah kekacauan pikiran para filusifi buku ini dikarang sewaktu berada di Baghdad di kala jiwanya di landa keragu-raguan. Dalam buku ini Al Ghazali mengancam filsafat dan para filusuf dengan keras. 3. Miyar al ilmi/miyar almi kriteria ilmu-ilmu. iv. Ihya’ ulumuddin menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kitab ini merupakan karyanya yang terbesar selama beberapa tahun ,dalam keadaan berpindah-pindah antara Damakus, Yerusalem, Hijaz, Dan Thus yang berisi panduan fiqih, tasawuf dan filsafat. 5. Al munqiz min al dhalal penyelamat dari kesesatan kitab ini merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al Ghazali sendiri dan merefleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai tuhan. 6. Al-ma’arif al-aqliyah pengetahuan yang nasional vii. Miskyat al anwar lampu yang bersinar, kitab ini berisi pembahasan tentang akhlak dan tasawuf. 8. Minhaj al abidin jalan mengabdikan diri terhadap tuhan. 9. Al iqtishad fi al i’tiqod moderisasi dalam aqidah. 10. Ayyuha al walad. 11. Al musytasyfa 12. Ilham al –awwam an ilmal kalam. 13. Mizan al amal. 14. Akhlak al abros wa annajah min al asyhar akhlak orang-orang baik dan kesalamatan dari kejahatan. 15. Assrar ilmu addin rahasia ilmu agama. sixteen. Al washit yang pertengahan . 17. Al wajiz yang ringkas. eighteen. Az-zariyah ilaa’ makarim asy syahi’ah jalan menuju syariat yang mulia 19. Al hibr al masbuq fi nashihoh al mutuk barang logam mulia uraian tentang nasehat kepada para raja. xx. Al mankhul minta’liqoh al ushul pilihan yang tersaing dari noda-noda ushul fiqih. 21. Syifa al qolil fibayan alsyaban wa al mukhil wa masalik at ta’wil obat orang dengki penjelasan tentang hal-hal samar serta cara-cara penglihatan. 22. Tarbiyatul aulad fi islam pendidikan anak di dalam islam 23. Tahzib al ushul elaborasi terhadap ilmu ushul fiqiha. 24. Al ikhtishos fi al itishod kesederhanaan dalam beri’tiqod. 25. Yaaqut at ta’wil permata ta’wil dalam menafsirkan al qur’an. Kesetiaan Imam Al Gazhali Kepada Gurunya. Walupun kemashuran telah diraih imam al-ghazali beliau tetap setia terhadap gurunya dan tidak meninggalkannya sampai dengan wafatnya pada tahun 478 H. sebelum al-Juwami wafat, beliau memperkenalkan imam al-Ghazali kepada Nidham Al Mulk, perdana mentri sulatan Saljuk Malik Syah, Nidham adalah pendiri madrasah al- nidzamiyah. Di Nashabur ini imam al Ghazali sempat belajar tasawuf kepada Abu Ali Al Fadl Ibn Muhammad Ibn Ali Al Farmadi west. 477 H/1084 Thou. Setelah gurunya wafat, Al Ghazali meninggalkan Naisabur menuju negri Askar untuk berjumpa dengan Nidzham Al Mulk. Di daerah ini beliau mendapat kehormatan untuk berdebat dengan para ulama. Dari perdebatan yang dimenangkan ini, namanya semakin populer dan desegani karena keluasan ilmunya. Pada tahun 484 H/1091 Thou, imam al-Ghazali diangkat menjadi guru besar di madrasah Nidhzamiyah, ini dijelaskan dalam bukunya al mungkiz min al dahalal. Selama mengajar di madrasah dengan tekunnya imam al Ghazali mendalami filsafat secara otodidak, terutama pemikiran al Farabi, Ibn Sina Ibn Miskawih dan Ikhwan Al terhadap filsafat terbukti dalam karyanya seperti Falsafah Tuhfatul Al Falasifah. Pada tahun 488 H / 1095 M, imam al Ghazali dilanda keraguanekeptis trhadap ilmu-ilmu yang dipelajarihukum teologi dan filsafat. Keraguan pekerjaannya dan karya-karya yang dihasilkannya, sehungga beliau menderita penyakit selama dua bulan. Sumber

10Tokoh Penemu Muslim di Dunia Gambar Keterangan - Tidak sedikit yang memahami peradaban Islam yang kini dirasakan kuno dan ketinggalan zaman, sebetulnya sudah lebih dulu maju dikomparasikan bangsa Barat pada zaman dahulu. Tidak sedikit semua ilmuwan dari dunia Islam yang sudah menemukan tidak sedikit juga pengetahuan dan menjadi fondasi

- Salah satu pemikir besar dalam dunia Islam adalah Al-Ghazali atau yang dikenal dengan Imam Ghazali. Imam Ghazali adalah seorang akademisi serta ahli tasawuf yang telah melahirkan karya-karya fenomenal. Salah satu karya terkenal dari Imam Ghazali berjudul Ihya Ulumuddin Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Agama.Semasa muda, Al-Ghazali merupakan seorang pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia pendai dalam ilmu tafsir Al Quran, hadis, ilmu kalam, dan filsafat. Beberapa sejarawan Muslim menganggapnya sebagai seorang Mujaddid, yakni seorang pembaru iman yang muncul sekali setiap abad untuk memulihkan iman umat Islam. Selain itu, Imam Al-Ghazali adalah sosok yang terkenal sebagai Bapak Tasawuf Modern. Baca juga Jabir bin Hayyan, Bapak Ilmu Kimia Modern Masa kecil Al-Ghazali Al-Ghazali lahir di Thus, Iran, pada 450 H atau 1058 dengan nama asli Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thus. Sejak kecil, ia sudah menjadi anak yatim karena ditinggal ayahnya. Namun, sebelum meninggal, ayahnya menitipkannya ke salah satu sahabatnya untuk mengurus pendidikannya. Al-Ghazali pun cukup beruntung karena berada di wilayah yang ditinggali para penyair, penulis, dan ahli agama Islam. Pendidikan Al-Ghazali Al-Ghazali mendapatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, di Kota Thus. Ia belajar ilmu agama bersama seorang guru bernama Ahmad bin Muhammad Razkafi. Al-Ghazali kecil telah pandai berbahasa Arab dan Parsi. Ia kemudian belajar mengenai ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, ushul fikih, filsafat, dan mahzab-mahzab besar Islam. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan di bidang ilmu fikih di Jarajan. Guru Imam Al-Ghazali saat itu adalah Imam Harmaim di Naisabur. Baca juga Imam Al-Qurthubi, Ahli Tafsir Terkenal dari Andalusia Selain itu, Al-Ghazali juga mengembara ke berbagai wilayah untuk menuntut ilmu, seperti ke Mekkah, Madinah, Mesir, dan Yerusalem. Berkat kegigihannya dalam belajar, pada 484 H atau 1092, Al-Ghazali diangkat menjadi rektor Madrasah Nizhamiyah di Bagdad. Tasawuf Imam Al-Ghazali Sebagai ahli dalam bidang tasawuf, yang kemudian dijuluki sebagai Bapak Tasawuf Modern, Imam Al-Ghazali memiliki beberapa inti ajaran, sebagai berikut. At-Thariq Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa seorang muslim yang ingin mendapatkan jalan Tasawuf harus melalui lima jenjang, yakni taubat, sabar, kefakiran, zuhud, dan tawakal. Baca juga Ilmuwan Muslim pada Masa Dinasti Ayyubiyah dan BidangnyaMakrifat Setelah lima tingkatan At-Thariq, Imam Al-Ghazali menganjurkan untuk memahami makrifat atau memahami pengetahuan terkait ketuhanan tanpa keraguan sedikit pun. Imam Al-Ghazali menekankan setiap umat Islam mengetahui pengetahuan tentang Allah SWT tanpa meragukannya. Ia juga berpendapat bahwa untuk mencapai pemahaman terkait Allah SWT, setiap umat Islam harusnya memiliki hati yang bersih atau suci. Tingkatan manusia Dalam ajaran tasawuf Imam Al-Ghazali, terdapat tiga tingkatan dalam manusia, yakni orang awam memiliki pemikiran sederhana, kaum pilihan atau golongan Khawas berpikir tajam dan mendalam, dan kaum ahli debat mampu mempersuasi orang dan mematahkan argumen. Kebahagiaan Menurut Imam Al-Ghazali, kebahagiaan menjadi tujuan akhir dalam perkenalannya dengan Allah SWT. Dalam konsep tasawuf Imam Al-Ghazali, kebahagiaan itu didapatkan melalui ilmu dan amal. Dengan memahami suatu konsep dan mempraktikkannya, maka manusia akan menemukan kebahagiaan. Baca juga Jamaluddin al-Afghani Biografi, Pemikiran, dan Ide Pembaharuan Akhir hayat Imam Al-Ghazali Imam Al-Ghazali merupakan seorang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan sehingga ia rela meninggalkan kehidupan duniawinya. Selama hidupnya, ia suka mengembara untuk mencari ilmu. Pada masa senjanya, Imam Al-Ghazali pulang ke Thus dan mendirikan sekolah di samping rumahnya. Ia juga membangun asrama untuk murid-muridnya yang belajar di sekolahnya. Al-Ghazali menikmati hari tuanya dengan membaca Al Quran, berkumpul dengan ahli ibadah, dan mengajar para penuntut ilmu. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada tahun 1111 ketika berusia 58 tahun. Baca juga Siapakah Imam Nawawi? Karya Imam Al-Ghazali Imam Al-Ghazali yang menjadi ilmuwan dan ahli tasawuf memiliki beberapa karya dalam bentuk kitab. Berikut adalah beberapa karya Imam Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin Al-Munqidh min al-Dalal Minhaj al-'Abidin Al-Munqidh min al-Dalal Al-Maqsad al-Asna fi Sharah Asma' Allahu al-Husna Faysal al-Tafriqa bayn al-Islam Wal-Zandaqa Maqasid al Falasifa Tahafut al-Falasifa Al-Qistas al-Mustaqim Referensi Jauhari, Wildan. 2018. Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali. Jakarta Penerbit Rumah Fiqih. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

nxivi.
  • ytr3vt7rv5.pages.dev/239
  • ytr3vt7rv5.pages.dev/921
  • ytr3vt7rv5.pages.dev/71
  • ytr3vt7rv5.pages.dev/999
  • ytr3vt7rv5.pages.dev/230
  • ytr3vt7rv5.pages.dev/746
  • ytr3vt7rv5.pages.dev/569
  • ytr3vt7rv5.pages.dev/214
  • siapakah guru pertama al ghazali di bidang tauhid